Pewaris Kerajaan Baranusa yang Bertutur

0
606

Rabu, 30 Januari 2019 Lembaga Adat Rumpun Baranusa telah melaksanakan acara Finalisasi Musyawarah Lembaga Adat Rumpun Baranusa Nomor: 05 Tahun 2018 tentang Kesepakatan Bersama Budaya Adat Hading Mulung dan Hoba Mulung yang bertempat di aula kantor Desa Baranusa, Kec, Pantar Barat, Kab. Alor-NTT. Kegiatan ini dihadiri oleh 17 orang peserta dari berbagai unsur antara lain: Pengurus dan anggota Lembaga Adat Rumpun Baranusa, tokoh masyarakat dari beberapa suku di 5 desa, Pemdes 5 desa (Blangmerang, Baranusa, Baraler, Illu, Piringsina), Pemerintah Kecamatan Pantar Barat, Perguruan Tinggi (Untrib Kalabahi) LSM (WWF Indonesia) dan perwakilan nelayan. Kegiatan dimulai pukul 09.00 Waktu Indonesia Tengah yang didahului Do’a oleh Sekertaris Dewan Adat Rumpun Baranusa (Samsudin Laara, S.Pd) dilanjutkan sambutan Pertama oleh Ketua Dewan Adat Rumpun Baranusa (H. B. K. Hobol ) Sambutan kedua oleh staf WWF Indonesia, sambutan ke Tiga sekaligus membuka kegiatan dengan resmi oleh Camat Pantar Barat ( Mashuri A. P. Uba, S.Sos). Kegiatan finalisasi penyusunan dokumen “Mulung” difasilitasi oleh Zakarias Atapada (Staf WWF Indonesia) dan Paulus E. Plaimo (Dosen Untrib Kalabahi).
Dalam sambutannya, Ketua Dewan Adat Rumpun Baranusa menyampaikan bahwa Sejarah, budaya dan lingkungan adalah satu komponen yang tak terpisahkan. Karena sejarah dan budaya kita mempertahankan Lingkungan. Kita lestarikan, kita teruskan sampai pada generasi yang akan datang melalui kearifan lokal yaitu “Hading Mulung dan Hoba Mulung”.
Hading artinya Tancap sesuatu benda pada lokasi yang akan di lararang atau Mulung dalam jangka waktu tertentu untuk menjaga dan melindugi semua hasil yang dilarang sampai dirasa hasil tersebut terlihat banyak baru dimanfaatkan. Sedangkan Hoba artinya Rebah atau cabut kembali sesuatu benda yang dicancap. Ini menandakan bahwa sudah saatnya masyarakat dapat memanfaatkan kembali hasil yang ada di lokasi larangan atau mulung, karena hasilnya cukup banyak. Oleh karena itu, Lokasi hak ulayat masyarakat sumpun adat Baranusa di periaran pulau Lapang-Batang perlu kita lakukan secara terus menerus dengan ritual adat Hading Mulung dan Hoba Mulung. Ingat juga akan pesan leluhur bahwa: Satu Hati, Satu Sikap, Satu Tindakan. “ONONG TOU DANGNGA ALANG BOTE BITI LAWO TANA TANG RO DIKE LELANG RO ALUS” (Satu Hati, Seiya Sekata Membangun Kampung Halaman Yang Lebih Baik Nan Indah). Dengan persatuan ini kita bisa membangun negeri ini dari berbagai aspek khususnya melestarikan sumberdaya laut dan pesisir berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal di lokasi perairan Pulau Lapang dan Batang. Lokasi Mulung kurang lebih 166, 22 Ha yang kita sudah sepakati dan tetapkan untuk mendukung Kawasan Konservasi Swaka Alam Perairan (SAP Selat Pantar) tetap kita pertahankan dan lestarikan untuk kita dan generasi yang akan datang (lanjut bapak H.B.K.Hobol dalam sambutannya).
Sementara sambutan dari staf WWF menyampaikan bahwa proses perjuangan untuk mempertahankan kearifan lokal khususnya wilayah perairan laut dan pesisir berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal di perairan Pulau Lapang dan Batang yang secara administratif masuk dalam wilayah Desa Blangmerang, Kec. Pantar Barat cukup lama namun bersyukur hari ini Lembaga Adat Rumpun Baranusa telah menghasilkan dokumen mulung. WWF-Indonesia tetap mendorong dan mendukung Lemabaga Masyarakat Rumpun Adat Baranusa dalam mengelola dan melestarikan sumberdaya alam khususnya laut dan pesisir berdasarkan pengetahuan dan nilai-nilai kearifan lokal melalui Hading Mulung dan Hoba Mulung (Indigenous and Community Conserved Areas) dan berharap hasil laut yang di Mulung akan menamba pendapatan perekonomian masyarakat serta lokasi mulung tetap terjaga dan lestari. Sementara point penting yang disampaikan bapak Camat Pantar Barat dalam sambutannya menekankan Pemerintah Daerah kabupaten Alor sangat menghargai dan mendukung Lembaga Adat dan Program Kerjanya. Beberapa bukti dukungan Pemda Alor terhadap Lembaga Adat khususnya Lembaga Adat Rumpun Baranusa antara lain: (1.) Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Pengakuan dan Pemberdayaan Lembaga Adat, (2). Bersama pihak-pihak lain khususnya WWF Indonesia, Untrib Kalabahi memfasilitasi masyarakat adat dalam melakukan kegiatan baik survey lokasi mulung, pelaksanaan ritual Hading Mulung dan Hoba Mulung yang sudah dilakukan 2016 dan 2018 dan Mendukung upaya masyarakat adat Baranusa dalam melakukan ritual Hading Mulung yang akan dilakukan kedepan. Pemerintah Berharap tidak saja melakukan “Mulung” di Perairan Pulau Lapang, tetapi dapat dilakukan di wilayah perairan lain di Kec. Pantar Barat.
setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan pembacaan Dokumen mulung sekaligus perbaikan (input.masukan peserta) oleh Sekertaris Dewan Rumpun Adat Baranusa. Adapun topik pembahasan antara lain: Judul, Motto, Latar Belakang, Tujuan, Wilayah Adat, Suku, lokasi Hading dan Hoba Mulung, Sumberdaya yang dihading, Jenis sumberdaya yang dapat dimanfaatkan, Jadwal Hading dan Hoba Mulung, Biaya dan Sangsi Adat. Selain itu dibahas juga Dokumen Sumpah Adat Hading Mulung dan Hoba Mulung.
Adapun sanksi adat Hading Mulung dan Hoba Mulung adalah:
1. Kegiatan ritual adat Hading Mulung dan Hoba Mulung dilaksanakan secara sumpah adatiah Baranusa terhadap alam yang dilindungi (Mulung) yang diikrarkan oleh tokoh adat maka sanksi yang yang didapat oleh pelanggar adat adalah sanksi alam atau kematian
2. Hading Mulung (tutup laut) dan Hoba Mulung (buka laut) dilaksanakan dengan sumpah adat maka yang melanggar akan dikenakan sanksi adat dengan nilai-nilai adat masyarakat adat Baranusa. (berupa: teguran dan peringatan dari lembaga adat).
Di akhir pertemuan, Peserta Penyusunan Dokumen Hading Mulung (Tutup Laut) dan Hoba Mulung (Buka Laut ) menandatangani kesepakatan “Dokument Hading dan Hoba Mulung” serta Dokumen Sumpah Adat Hading dan Hoba Mulung”
Informasi mengenai Peran Lembaga Adat Rumpun Baranusa dalam melestarikan sumberdaya laut dan pesisir berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal, dapat menghubungi Pengurus Lembaga Adat Baranusa (Bapak Samsudin Laara, S.Pd) Nomor Kontak: 082339059896